
Vibration test pada produk bukan sekadar menyalakan shaker dan menaikkan level. Sistem yang benar terdiri dari shaker, power amplifier, controller, sensor kontrol, dan fixture—dan fixture sering menjadi bagian yang paling menentukan apakah hasilnya sah. Untuk memilih sistem, mulailah dari profil uji (sine, random, atau shock), massa DUT, dan aksesori fixture, lalu hitung kebutuhan force, velocity, dan displacement dari kombinasi ketiganya.
1. Sistem vibration test terdiri dari apa saja
ECON Technologies membagi sistem vibration test menjadi beberapa komponen: electro-dynamic shaker (seri EDS, EDM, EDM-LS long-stroke, dan EDH water-cooled), power amplifier, controller (termasuk MIMO), measurement and analysis system, vibration transducer calibration system, dan software. Sistem multi-axis atau multi-degree-of-freedom dibangun dari komponen yang sama dengan konfigurasi berbeda.
Pembagian ini penting saat pengadaan, karena memilih shaker tanpa mempertimbangkan controller dan sensor kontrol akan menyisakan risiko integrasi. Yang sering memutuskan kualitas hasil akhir justru loop kontrol: bagaimana controller menjaga level pada titik kontrol saat resonansi fixture dan DUT bergerak.
2. Empat mode pengujian dan artinya bagi pemilihan
| Mode | Karakter sinyal | Yang membebani sistem |
|---|---|---|
| Sine | Satu frekuensi pada satu waktu, menyapu rentang | Displacement pada frekuensi rendah, velocity pada tengah, acceleration pada frekuensi tinggi |
| Random | Spektrum dengan distribusi energi pada rentang frekuensi | Force RMS dan rating amplifier |
| Shock | Pulsa pendek dengan peak tinggi | Peak force, velocity, dan kemampuan amplifier menyalurkan arus singkat |
| Mixed mode | Kombinasi, misalnya sine-on-random | Kapabilitas controller dan headroom sistem |
ECON mencantumkan bahwa seri EDM mendukung pengujian sine, random, shock, dan mixed mode, dari single axis hingga multi-axis. Kemampuan ini harus dipastikan pada level sistem, bukan hanya pada level shaker.
3. Angka yang harus dicocokkan
Pada pemilihan shaker, tiga besaran klasik adalah force (N atau kN), velocity (m/s), dan displacement (mm peak-peak). Ketiganya saling mengikat melalui frekuensi: pada frekuensi rendah displacement menjadi pembatas, pada frekuensi menengah velocity, dan pada frekuensi tinggi acceleration—sehingga kurva rating shaker membentuk dua garis miring yang membatasi daerah kerja.
Untuk seri EDM, ECON mencantumkan sine force peak 10–50 kN dengan beban maksimum 300–1.000 kg, serta kolom effective armature mass pada tabel spesifikasinya. Dua angka terakhir adalah kunci praktis: massa yang harus digerakkan bukan hanya DUT, tetapi DUT ditambah fixture, ditambah armature shaker itu sendiri.
Fitur teknis lain yang perlu dibandingkan pada level sistem meliputi desain trunnion isolation, double magnetic circuit, sistem auto-centering pada air spring, opsi desain tanpa pondasi (foundation-free), rating MTBF, dan noise power amplifier yang dicantumkan ECON sebesar –68 dB. Untuk laboratorium di dalam gedung, nilai noise amplifier bukan detail kosmetik.
4. Fixture dan titik kontrol: sumber ketidakpastian yang paling sering diremehkan
Fixture harus meneruskan getaran dari armature ke DUT tanpa menambahkan resonansi pada rentang uji. Jika fixture beresonansi di dalam rentang tersebut, level pada DUT dapat jauh melampaui level pada titik kontrol—ini penyebab umum kerusakan DUT yang tidak terduga dan hasil uji yang tidak dapat diulang.
Karena itu, urutan kerja yang sehat adalah:
- Tetapkan profil uji dan standar yang diacu beserta level dan durasinya.
- Hitung massa total yang digerakkan: DUT + fixture + armature.
- Periksa kurva rating pada rentang frekuensi uji, bukan hanya pada satu titik.
- Rancang atau pilih fixture dengan frequency natural yang cukup di atas rentang uji.
- Tentukan titik kontrol dan titik pemantauan, lalu verifikasi dengan sensor tambahan pada DUT.
- Jalankan pre-test pada level rendah untuk melihat respons sistem sebelum level penuh.
- Catat semua: profil, sensor, posisi, torsi pemasangan, dan hasil run.

5. Konteks pengujian di Indonesia
Kebutuhan vibration test di Indonesia muncul dari beberapa arah yang berbeda. Produsen peralatan rumah tangga dan elektronik menguji ketahanan transportasi dan getaran operasional. Industri otomotif dan komponen menguji sesuai persyaratan pelanggan. Lembaga riset dan perguruan tinggi memakai shaker untuk modal analysis dan penelitian struktur, termasuk model bangunan dan komponen teknik sipil.
ECON sendiri mencantumkan sasaran pengguna seperti laboratorium, institusi riset kelistrikan, kereta api, dan telekomunikasi, serta lembaga pengujian mutu produk dan aplikasi seperti uji model tahan gempa serta peralatan proteksi kebakaran. Daftar ini berguna sebagai cermin saat menyusun kebutuhan: apakah sistem Anda akan dipakai untuk satu jenis produk atau banyak jenis, dan apakah satu sumbu cukup atau multi-axis diperlukan.
Untuk laboratorium yang baru memulai, satu sistem single-axis dengan fixture modular dan prosedur tertulis biasanya memberi nilai lebih besar daripada sistem besar tanpa kesiapan fixture dan kalibrasi.
6. Kesalahan umum saat membangun sistem vibration test
- Menghitung massa DUT saja dan melupakan massa fixture serta armature.
- Memilih shaker dari angka force maksimum tanpa memeriksa kurva rating pada rentang frekuensi uji.
- Memakai fixture yang beresonansi di dalam rentang uji.
- Tidak memisahkan titik kontrol dari titik pemantauan pada DUT.
- Melewatkan pre-test level rendah sehingga non-linearitas dan masalah fixture baru terlihat saat DUT sudah berisiko rusak.
- Mengabaikan kalibrasi berkala sensor kontrol dan sistem akuisisi.
- Tidak mencatat torsi dan metode pemasangan sensor sehingga hasil antar-sesi tidak dapat dibandingkan.
7. Pilihan di katalog Terastek
Untuk shaker electro-dynamic, lihat ECON EDM series Electro-Dynamic Shaker (sine force 10–50 kN, beban maksimum 300–1.000 kg) dan jelajahi kategori Vibration Shaker System untuk cakupan sistem yang lebih luas.
Untuk sisi pengukuran, bandingkan PCB Piezotronics 333B accelerometer series sebagai sensor kontrol dan pemantauan, serta PCB 639A91 triaxial accelerometer untuk pengukuran tiga arah. Untuk akuisisi dan analisis, lihat Dewesoft Sirius XR dan hub Sistem Vibration Shaker.
Artikel Modal Analysis Struktur dan Komponen Otomotif melanjutkan bagian analisis setelah data eksitasi diperoleh.
FAQ
Apakah shaker single-axis masih cukup?
Untuk banyak pengujian standar, ya—pengujian dilakukan sumbu per sumbu. Multi-axis atau MIMO dipilih ketika korelasi antar-sumbu penting, ketika waktu pengujian harus dipersingkat, atau ketika kondisi nyata memang simultan pada beberapa sumbu.
Apakah sistem memerlukan pondasi khusus?
Tergantung desain. ECON menyediakan opsi desain tanpa pondasi (foundation-free) pada seri tertentu, yang relevan untuk gedung yang tidak memungkinkan pekerjaan sipil besar. Namun pemilihan ini harus dibahas bersama kebutuhan level dan lingkungan gedung.
Berapa lama sistem perlu dikalibrasi?
Yang dikalibrasi adalah sensor kontrol dan sistem pengukuran, dengan interval mengikuti kebijakan laboratorium dan persyaratan standar yang diacu. Selain kalibrasi, verifikasi fungsional sistem—loop kontrol, amplifier, dan respons fixture—sebaiknya dilakukan sebelum rangkaian uji dimulai.
Kesimpulan
Bangun sistem vibration test dari profil uji dan massa total yang harus digerakkan, lalu cocokkan kurva rating shaker, kapabilitas amplifier dan controller, serta kualitas fixture. Verifikasi dengan titik pemantauan pada DUT dan catat seluruh setup agar hasilnya dapat diulang dan dipertanggungjawabkan.
Sumber resmi
- ECON Technologies — EDM series Electro-Dynamic Shaker (sine force, max load, fitur sistem)
- ECON Technologies — Vibration Test System, komponen sistem, dan tipe shaker
- PCB Piezotronics — sensor dan aplikasi pengukuran getaran
Source reviewed: 27 September 2026. Hubungi Terastek untuk konfigurasi sistem vibration test, fixture, dan sensor pengukuran.
